Dalil Al Qur’an tentang bergeraknya matahari dan bulan (1)

oleh: Abu Abdil Mushawwir

لاَ الشّمْسُ يَنبَغِي لَهَآ أَن تدْرِكَ القَمَرَ وَلاَ الْلّيْلُ سَابِقُ النّهَارِ وَكُلّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (QS Yaasiin : 40)

وَهُوَ الّذِي خَلَقَ الْلّيْلَ وَالنّهَارَ وَالشّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (QS. Al Anbiyaa’ : 33)

* Berkata Imam Ibnu Katsir tentang Surat Yasin ayat 40:  [#1]

وقوله تبارك وتعالى: {وكل في فلك يسبحون} يعني الليل والنهار والشمس والقمر, كلهم يسبحون أي يدورون في فلك السماء, قاله ابن عباس وعكرمة والضحاك والحسن وقتادة وعطاء الخراساني. وقال عبد الرحمن بن زيد بن أسلم: في فلك بين السماء والأرض, ورواه ابن أبي حاتم, وهو غريب جداً بل منكر. قال ابن عباس رضي الله عنهما وغير واحد من السلف: في فلكة كفلكة المغزل. وقال مجاهد: الفلك كحديدة الرحى أو كفلكة المغزل, لا يدور المغزل إلا بها, ولا تدور إلا به.

* Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya tentang firman Allah Surat al Anbiyaa’ ayat 33:  [#2]


وكل في فلك يسبحون} أي يدورون. كذا قال ابن عباس: يدورون كما يدور المغزل في الفلكة قال مجاهد: فلا يدور المغزل إلا بالفلكة, ولا الفلكة إلا بالمغزل, كذلك النجوم والشمس والقمر لا يدورون إلا به ولا يدور إلا بهن, كما قال تعالى: {فالق الإصباح وجعل الليل سكنا والشمس والقمر حسبانا ذلك تقدير العزيز العليم

Firman Allah  وكل في فلك يسبحون maksudnya adalah يدورون (berputar/ beredar). Berkata Ibnu Abbas: “Berputar seperti berputarnya alat pemintal yang berbentuk bulat.” Sebagaimana telah berkata Mujahid: “Tidaklah alat pemintal itu berputar melainkan dengan berbentuk bulat, dan tidaklah berbentuk bulat kecuali seperti alat pemintal. Hal itu sebagaimana bintang-bintang, matahari, dan bulan tidaklah beredar kecuali dengan (lintasan) bulat, sebagaimana firman Allah:

فالق الإصباح وجعل الليل سكنا والشمس والقمر حسبانا ذلك تقدير العزيز العليم

_____________________________

Footnote:

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul ’Azhiim, Juz 11 hal 364-365
  2. Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul ’Azhiim, Juz 9 hal 402-403

Dalil Al Qur’an tentang tidak bergeraknya bumi (4)

oleh: Abu Abdil Mushawwir

Dalil keempat

اللّهُ الّذِي جَعَـلَ لَكُـمُ الأرْضَ قَـرَاراً وَالسّمَآءَ بِنَـآءً وَصَوّرَكُـمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُـمْ وَرَزَقَكُـمْ مّنَ الطّيّبَاتِ ذَلِكُمُ اللّهُ رَبّكُـمْ فَتَـبَارَكَ اللّهُ رَبّ الْعَالَمِينَ

a. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (QS al Mu’min :64)

أَمّن جَعَلَ الأرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلاَلَهَآ أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَإِلَـَهٌ مّعَ اللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

b. Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui (QS. An Naml : 61)

Kata قرار adalah tetap dan tenang di satu tempat. (Lihat al Qamus al Muhith 2/119 dan Lisaanul Arab 5/86)

* Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, Surat al Mu’min ayat 64:   [#1]

وقوله تعالى: {الله الذي جعل لكم الأرض قراراً} أي جعلها لكم مستقراً بساطاً مهاداً تعيشون عليها وتتصرفون فيها وتمشون في مناكبها وأرساها بالجبال لئلا تميد بكم

Dan firman Allah Ta’ala: “Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap” maksudnya Allah menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat tinggal, Kalian bisa berbuat sesuatu di dalamnya serta bisa berjalan pada permukaannya. Dan Allah menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak bergerak bersama kalian.

* Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan QS. An Naml ayat 61:   [#2]

يقول تعالى: {أمن جعل الأرض قراراً} أي قارة ساكنة ثابتة لا تميد ولا تتحرك بأهلها ولا ترجف بهم فإنها لو كانت كذلك لما طاب عليها العيش والحياة بل جعلها من فضله ورحمته مهاداً بساطاً ثابتة لا تتزلزل ولا تتحرك كما قال تعالى في الاَية الاَخرى {والله الذي جعل لكم الأرض قراراً والسماء بناء

Allah Berfirman :” Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam.’ قرار maksudnya adalah diam, tenang, tetap tidak bergerak, serta tidak membuat guncang penghuninya. Karena bumi seandainya seperti itu, maka tidak mungkin dihuni dengan baik, akan tetapi Allah menjadikannnya sesuatu yang terhampar, tidak berguncang, dan tidak bergerak.: sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lainnya: ‘ Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap’ (QS Al Mu’min :64).”

Sisi pengambilan dalil: Allah menjadikan bumi sebagai tempat menetap, tempat berdiam, Allah yang Maha Penyayang menjadikan bumi diam, tenang, tidak bergerak.

_______________________________

Footnote:

  1. Tafsir Ibnu Katsir Juz 12 hal 207
  2. Tafsir Ibnu Katsir Juz 10 hal 420

Bukti Teleskopis bahwa Bumi Berada di Tengah Semesta

Edwin Hubble adalah termasuk ahli astronomi terkemuka pada abad 20. Hubble Space Telescope diambil dari nama beliau, dikarenakan prestasi-prestasinya yang luar biasa. Kemudian, pada tahun 1930-an hingga 1940-an, Hubble menemukan banyak sekali bukti-bukti yang beliau peroleh melalui penelitian menggunakan teleskop 100 inci-nya yang berlokasi di Mount Wilson, California. Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa Bumi terletak di tengah semesta. Hal ini beliau temukan saat meneliti cahaya dari bintang-bintang, Hubble menyimpulkan bahwa spektrum cahaya bintang, terutama pada pergeseran ke arah warna merah dari spektrum, menunjukkan dengan jelas posisi Bumi yang berada di tengah. Tetapi dikarenakan Hubble seorang ilmuwan heliocentric, bukti geocentric ini dihilangkan dan diganti dengan teori alternatif yang terkesan dipaksakan:
…Such condition would imply that we occupy a unique position of the universe, analogous, in a sense, to the ancient conception of a central Earth…This hypothesis cannot be disproved, but it is unwelcome and would only be accepted as a last resort in order to save phenomena. Therefore we disregard this posibiltiy… the unwelcome position of a favored location must be avoided at all costs… such a favored position is intolerable… Therefore, in order to restore homogeneity, and to escape the horror of a unique position… must be compensated by spatial curvature. There seems to be no other escape. [1]

(…Kondisi seperti ini menyiratkan bahwa kita menempati posisi unik di alam semesta, sekilas, dalam beberapa hal, berhubungan dengan konsep kuno tentang Bumi yang terletak di tengah -semesta-… Hipotesa ini tidak terbantahkan -disproved-, akan tetapi hal ini tidak dikehendaki dan hanya bisa dianggap sebagai jalan terakhir untuk lari dari fenomena tersebut. Oleh karena itu, kami tidak mengindahkan kemungkinan ini -yakni, Bumi terletak di tengah semesta-… posisinya yang tidak dikehendaki dari sebuah lokasi semacam ini harus dihindari walau bagaimanapun juga… seperti posisi semacam ini tidaklah dapat ditoleransi… Karenanya, sehubungan dengan pemulihan homogenitas -ruang dan waktu-, dan untuk lari dari horor tentang posisi yang unik ini… harus diimbangi dengan kelengkungan ruang -spatial curvature-. Tampaknya memang tidak ada jalan lain.)

Meskipun Hubble mengakui bahwa penemuan ini “disproved”, “Earth-centered”(konsep Bumi ditengah semesta) tidak hanya “unwelcome” tapi “must be avoided at all costs” dan dikatakan juga hal ini merupakan “horror” yang “intolerable”. Juga patut diperhatikan, Hubble sengaja mengeluarkan teori “space curvature” yang diciptakan (oleh Einstein) untuk lari dari kenyataan bahwa geocentric sesungguhnya merupakan implikasi yang tepat terhadap temuan teleskopnya di Mount Wilson, California.

Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa kebanyakan ilmuwan sekarang tidak dapat mengatasi prasangka dan praduga yang timbul dari mereka sendiri pada saat meneliti bukti-bukti yang mengganggu cara pandang mereka selama ini (heliocentric). Pemikiran untuk “minta maaf” atas fakta-fakta yang terjadi bahwa ilmu astronomi karena telah menyesatkan sebagian besar orang selama ini, dianggap sebagai “intolerable…horror” seperti yang terjadi pada Edwin Hubble. Kemudian dikomentari oleh Van der Kamp:
For theoritical thinking and concluding are not self-sufficient. When -as it has happenned!- a prominent astronomer tells us that scientifically the Thyconean [Geocentric] system of the world cannot be disproven, but that philosophically it is un acceptable, then he bares thereby the pre-rational foundation of all human thought to be the starting point of his convictions. And that starting point determines his approach to his scientific labors, whether he is fully aware of it or not… his faith in human thinking’s self-sufficiency misleads him into believing that this thinking can provide him with an unassailable truth [2]

(Karena pemikiran dan penyimpulan secara teoritis tidak memuaskan. Ketika -seperti yang telah terjadi!- seorang ahli astronomi terkemuka mengatakan kepada kita bahwa secara ilmiah sistem [Geocentric] Thyconean adalah tidak terbantahkan -disproven-, namun secara filosofis hal ini tidak dapat diterima, kemudian dengan polos ia menggunakan pondasi pra-rasional dari semua pemikiran manusia sebagai titik awal pendiriannya. Dan titik awal itu menentukan tujuan dari pekerjaan ilmiahnya, apakah ia benar-benar sadar akan hal itu atau tidak… Keyakinannya merasa cukup di dalam pemikiran manusia menyesatkannya hingga mempercayai bahwa pemikiran ini telah mencukupkannya dengan sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.)

Mighty telescopes and super-sensitives scanners may deliver reams and reams of data -they deliver not a syllable of unassailable interpretation. At bottom we always see, as Wittgenstein put it, what we want to see. That is in astronomy: Either a closed finite, an open finite, or a curved unbounded cosmos. [3]

(Teleskop-teleskop raksasa dan pemindai-pemindai yang sangat sensitif dapat mengirimkan rim demi rim data -mereka tidak mengirimkan sebuah kata saja dari interpretasi yang tidak terbantahkan. Pada dasarnya kita selalu melihat, seperti dinyatakan Wittgenstein, apa yang ingin kita lihat. Dan hal ini terjadi dalam astronomi: Apakah ia berupa semesta tertutup, semesta terbuka, atau semesta melengkung tak terhingga)

James Burke, dalam bukunya yang menggambarkan bagaimana Galileo mengubah cara pandang kita dalam memandang semesta, menyatakan:
Today we live according to the latest version of how universe functions. This view affects our behaviour and thought, just as previous version affected those who lived with them. Like the people of the past, we disregard phenomena which do not fit our view becouse they are ‘wrong’. Like our ancestors we know the real truth.Has the course of learning about the universe been, as science would claim, a logical and objective search for the truth, or is each step taken for reasons related only to the theories of the time? Do scientific criteria change with changing social priorities? If they do, why is science accorded its privileged position? If all research is theory-laden, contextually determined, is knowledge merely what we decided it should be? Is the universe what we discover it is, or what we say it is? [4]

(Sekarang kita hidup berdasarkan versi terakhir tentang bagaimana semesta berfungsi. Cara pandang ini mempengaruhi sikap dan pikiran, sama halnya seperti versi sebelumnya yang telah mempengaruhi orang-orang yang hidup bersama versi tersebut. Seperti halnya orang di masa lalu, kita mengabaikan fenomena yang tidak cocok dengan cara pandang kita karena merupakan suatu ‘kesalahan’. Seperti pendahulu kita yang kita ketahui dengan sebenarnya.Sudahkah tujuan mempelajari semesta selama ini, seperti yang diklaim oleh ilmu pengetahuan, sebagai pencarian yang logis dan objektif terhadap kebenaran, atau setiap langkah yang diambil untuk alasan tertentu hanya berhubungan dengan teori yang pada waktu itu? Apakah kriteria ilmiah berubah seiring dengan perubahan prioritas sosial? Jika iya, mengapa ilmu pengetahuan merasa posisinya istimewa? Jika setiap riset adalah berupa pemuatan teori, ditentukan secara konteks, apakah pengetahuan berarti apa yang kita tentukan bagaimana ia seharusnya? Apakah semesta adalah sebagaimana yang kita temukan, atau sebagaimana yang kita katakan?)

Kemudian Burke menambahkan:


The point is that it would look exactly the same. When we observe nature we see what we want to see, according to what we believe we know about it that time. [5]

(Intinya semua itu akan terlihat sama persisnya. Ketika kita mengamati alam kita melihat apa yang ingin kita lihat, sesuai dengan apa yang kita percayai kita ketahui tentang hal tersebut pada waktu itu.)

Dari pernyataan Hubble:


If the redshifts are a Doppler shift… the observations as they stand lead to the anomaly of a closed universe, curiously small and dense, and, it may be added, suspiciously young. On the other hand, if redshifts are not Doppler effects, these anomaly disappear and the region observed appears as a small, homogenous, but insignificant portion of a universe extended indefinitely in both space and time. [6]

(Jika Pergeseran Spektrum Merah -Red Shift- merupakan pergeseran Doppler… observasi-observasi yang mereka lakukan mengarah kepada anomali dari sebuah semesta yang tertutup, kemungkinan berukuran kecil dan padat, dan kemungkinan muda usianya. Sementara, bila Pergeseran Spektrum Merah bukan merupakan efek Doppler, anomali ini hilang dan wilayah yang diobservasi tersebut tampak kecil, homogen, namun beberapa bagian kecil dari semesta meluas dalam wujud ruang dan waktu.)

Atau dengan kata lain dapat dikatakan, Hubble berada dalam dilema yang menyulitkannya untuk mengambil kesimpulan. Bila beliau mengakui bahwa Pergeseran Spektrum Merah adalah merupakan efek Doppler maka terpaksa menyetujui konsep Geocentric, yaitu, Bumi ditengah semesta yang “closed, small, dense and young” Bila beliau mengakui bahwa Pergeseran Spektrum Merah bukan merupakan efek Doppler maka terpaksa menerima konsep “Infinite Universe” yang bahkan tidak sejalan dengan teori Big Bang maupun General Relativity.Kebenaran yang ada dari fakta di atas adalah bahwa salah seorang ilmuwan terkemuka yang telah diakui dunia ternyata memiliki teori dari hasil penelitiannya sendiri yang ternyata bertentangan dengan ilmu astronomi saat ini. Tentu saja konsep “Earth-centered” bagi Hubble pada awalnya adalah sesuatu yang “intolerable”, namun tetap saja konsep ini diakui beliau tidak dapat terbantahkan secara ilmiah -disproven-

._______________________

  1. The Observational Approach to Cosmology, 1937, pp. 50, 51, 58-59
  2. De Labore Solis, p.56.
  3. De Labore Solis, p.80.
  4. James Burke, The Day the Universe Changed: How Galileo’s Telescope Changed the Truth and Other Events in History That Dramatically Altered Our Understanding of the World, 1985, preface.
  5. James Burke, The Day the Universe Changed, p. 11.
  6. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 17, 506, 1937.

Dikutip dari postingan Mas Goen di milis Hidayatullah

Dalil Al’Quran tentang tidak bergeraknya bumi (3)

oleh: Abu Abdil Mushawwir

Dalil ketiga

وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السّمَآءُ وَالأرْضُ بِأَمْرِهِ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. (QS.Ruum :25)

Kata  ( قام - يقوم - قياما ) bermakna  وقف (berhenti)  إنتصب (berdiri tegak) إنتصف (berada di tengah-tengah) dst

Kata  ( قام - يقوم - قياما ) bermakna  وقف (berhenti ) sebagaimana firman Allah:

كُلّمَا أَضَآءَ لَهُمْ مّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا

…. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti…. (QS. Al Baqarah :20)

#  Berkata Imam Ibnu Mandhur: “Di antara makna ini adalah firman Allah: ‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.’ (QS.Ruum :25)
Artinya adalah diam dan tetap, serta tidak bergerak dan tidak pula berputar.”   (#1)

# Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, Surat Ruum ayat 25:   (#2)

ثم قال تعالى: {ومن آياته أن تقوم السماء والأرض بأمره} كقوله تعالى: {ويمسك السماء أن تقع على الأرض إلا بإذنه} وقوله {إن الله يمسك السموات والأرض أن تزولا}

Kemudian Allah berfirman: ” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya,” seperti firman Allah: Dan Dia menahan langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya” (QS al Hajj :65). Juga firman-Nya: ” Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser (QS. Fathiir :41)

Sisi pengambilan dalil: Allah menahan langit dan bumi agar berhenti, yakni tidak bergerak.

—————————–
Footnote:

  1. Lisaanul Arab 12/498
  2. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul ‘Azhim, Juz 11 hal 22

Dalil Al Qu’ran tentang tidak bergeraknya bumi (2)

oleh: Abu Abdil Mushawwir

Dalil kedua

إِنّ اللّهَ يُمْسِكُ السّمَاوَاتِ وَالأرْضَ أَن تَزُولاَ وَلَئِن زَالَتَآ إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مّن بَعْدِهِ إِنّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser; dan sungguh jika keduanya bergeser tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Fathiir :41)

Kata (زال - يزول - زولا ) bermakna  ذهب (pergi/ berlalu)   تنحّي (menyingkir/ menjauh)   هلك (mati/ binasa)  تحرّك (bergerak/ bergoyang)

Dalam terjemahan versi Depag, kata  زال dalam ayat ini diartikan binasa. Namun jika kita merujuk kepada kitab-kita induk tafsir, kata ini dibawa ke dalam makna ‘bergeser dari satu tempat ke tempat lain’.

Dikatakan  زالت الشمس artinya matahari tergelincir/ bergeser.

Sekarang mari kita lihat penafsiran para Ulama Tafsir:

# Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menafsirkan surat Fathiir ayat 41:     (#1)

فقال {إن الله يمسك السموات والأرض أن تزولا} أي أن تضطربا عن أماكنهما, كما قال عز وجل: {ويمسك السماء أن تقع على الأرض إلا بإذنه} وقال تعالى: {ومن آياته أن تقوم السماء والأرض بأمره}

“Firman Allah: ‘Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser’ yakni agar tidak bergerak dari tempatnya. Seperti firman-Nya: “Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya” (QS al Hajj :65). Juga firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berhentinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.” (QS. Ar Ruum:25)

Sisi pengambilan dalil: Allah menahan langit dan bumi agar tidak bergerak/ bergeser. Berarti langit dan bumi diam di tempatnya. Tidak bergerak, apalagi berputar.

____________________________

Footnote:

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul ‘Azhim, Juz 11 hal 338

Dalil Al Qur’an tentang tidak bergeraknya bumi (1).

oleh: Abu Abdil Mushawwir

Dalil pertama

وَأَلْقَىَ فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَاراً وَسُبُلاً لّعَلّكُمْ تَهْتَدُونَ

a. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk  (QS.An Nahl :15)

وَجَعَلْنَا فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجاً سُبُلاً لّعَلّهُمْ يَهْتَدُونَ

b. Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk (Al Anbiyaa’ :31)

خَلَقَ السّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَىَ فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثّ فِيهَا مِن كُلّ دَآبّةٍ وَأَنزَلْنَا مِنَ السّمَآءِ مَآءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِن كُلّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

c. Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Luqman :10

Kata ( ماد – يميد - ميدا ) artinya إهـتـز (bergoyang)
Bisa berarti juga دار (berputar/beredar) seperti kalimat مادت الارض (Bumi berputar)
(Lihat Imam Jauhari dalam ash Shihah, dan Ibnu Mandhur dalam Lisaanul Arab 3/411) –Silakan tanya sendiri orang arab bagaimana cara mengungkapkan kalimat “Bumi berputar” –

Mungkin ada yang menyangka ini adalah pemahaman bahasa saja (!!!)
Bahwa bahasa Arab memiliki banyak makna, lalu kami secara serampangan mengambil makna yang sesuai pemahaman kami, kemudian dari pemahaman ini didapat penafsiran yang keliru.

Kami jawab: bahwa Al Quran diturunkan dengan bahasa Arab , Maka untuk menafsirkannya tentulah harus difahami dengan qawa-id (grammar) bahasa Arab.
Juga dengan pemahaman orang Arab itu sendiri dalam memahami makna kalimat beserta ungkapan-ungkapannya. Maka rujuklah kepada kitab-kitab para Ulama Lughah dan Tafsir.
Dan mari kita lihat perkataan para mufassir (Ahli Tafsir) tentang ayat ini.
(Yang kami sampaikan sebagian besar adalah perkataan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anul Azhim, sebab Tafsir ini adalah salah satu tafsir bil ma’tsur terbaik, yang dipakai rujukan oleh para Ulama kita. Selain itu kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia)

#  Berkata Imam Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir (Wafat 774H) dalam tafsirnya saat menafsirkan surat al-Anbiyaa’ ayat 31:  [#1]

وقوله: «وجعلنا في الأرض رواسي» أي جبالاً أرسى الأرض بها وقررها وثقلها لئلا تميد بالناس, أي تضطرب وتتحرك, فلا يحصل لهم قرار عليها لأنها غامرة في الماء إلا مقدار الربع. فإنه باد للهواء والشمس ليشاهد أهلها السماء وما فيها من الاَيات الباهرات والحكم والدلالات, ولهذا قال: {أن تميد بهم} أي لئلا تميد بهم

Lihat juga perkataannya dalam menafsirkan Surat an Nahl ayat 15:   [#2]

ثم ذكر تعالى الأرض وما ألقى فيها من الرواسي الشامخات, والجبال الراسيات, لتقر الأرض ولا تميد, أي تضطرب بما عليها من الحيوانات فلا يهنأ لهم عيش بسبب ذلك, ولهذا قال: {والجبال أرساها}

Juga dalam Surah Luqman ayat 10:            [#3]

ألقى في الأرض رواسي} يعني الجبال أرست الأرض وثقلتها لئلا تضطرب بأهلها على وجه الماء, ولهذا قال {أن تميد بكم} أي لئلا تميد بكم.

#  Berkata Imam al Baghawi saat menafsirkan surat an Nahl ayat 15 :

. ” وألقى في الأرض رواسي أن تميد بكم “أي: [لئلا تميد بكم]أي تتحرك وتميل. وألميد: هو الاضطراب والتكفؤ، ومنه قيل للدوار الذي يعتري راكب البحر:ميد. قال وهب:لما خلق الله الأرض جعلت تمور فقالت الملائكة: إن هذه غير مقرة أحدا على ظهرها فأصبحت وقد أرسيت بالجبال فلم تدر الملائكة مم خلقت الجبال. “وأنهاراً و سبلاً”أي: وجعل فيها أنهاراً وطرقاً مختلفة،”لعلكم تهتدون”،إلى ما تريدون فلا تضلون.

#  Berkata Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr al Qurthubi (Wafat 671H) saat menafsirkan surat al-Anbiyaa’ ayat 31:        [#4]

قوله تعالى: “وجعلنا في الأرض رواسي” أي جبالا ثوابت. “أن تميد بهم” أي لئلا تميد بهم، ولا تتحرك ليتم القرار عليها؛ قاله الكوفيون. وقال البصريون: المعنى كراهية أن تميد. والميد التحرك والدوران. يقال: ماد رأسه؛ أي دار.

“Firman Allah وجعلنا في الأرض رواسي maksudnya adalah gunung gunung yang teguh. Sedangkan أن تميد بهم yaitu agar bumi itu tidak bergerak bersama mereka, dan tidak berguncang agar bisa dijadikan tempat tinggal dengan sempurna. Ini adalah perkataan Ahli Kuffah, sedangkan perkataan Ahli Bashrah أن تميد بهم adalah mencegah agar tidak bergerak dan berputar. Dikatakan ماد رأسه adalah kepalanya berputar”

#  Berkata Imam Syaukani saat menafsirkan surat al-Anbiyaa’ :” الميد adalah bergerak dan berputar, maksudnya ialah agar bumi itu tidak bergerak dan berputar bersama penghuninya.”

Sisi pengambilan dalil: Allah memantapkan bumi dengan gunung-gunung, agar manusia bisa menjalankan aktivitasnya dengan tenang serta agar bisa berjalan di segala penjurunya dalam keadaan bumi itu tenang dan tidak bergerak bersama mereka, juga tidak berputar.

(bersambung, insya Allah)

__________________________________

Footnote:

  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul ‘Azhim, Juz 9 hal 401
  2. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul ‘Azhim, Juz 8 hal 300
  3. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul ‘Azhim, Juz 11 hal 49
  4. Al Qurthubi, Jami’u li Ahkamil Qur’an, , Juz 14 hal 198

—————————-

Referensi:

  1. Al Qur’anul Kariim
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Tafsir al Qurthubiy
  4. Tafsir al Baghawiy
  5. Lisanul Arab, Ibnu Mandhur
  6. Matahari Mengelilingi Bumi, Ahmad Sabiq