Edwin Hubble adalah termasuk ahli astronomi terkemuka pada abad 20. Hubble Space Telescope diambil dari nama beliau, dikarenakan prestasi-prestasinya yang luar biasa. Kemudian, pada tahun 1930-an hingga 1940-an, Hubble menemukan banyak sekali bukti-bukti yang beliau peroleh melalui penelitian menggunakan teleskop 100 inci-nya yang berlokasi di Mount Wilson, California. Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa Bumi terletak di tengah semesta. Hal ini beliau temukan saat meneliti cahaya dari bintang-bintang, Hubble menyimpulkan bahwa spektrum cahaya bintang, terutama pada pergeseran ke arah warna merah dari spektrum, menunjukkan dengan jelas posisi Bumi yang berada di tengah. Tetapi dikarenakan Hubble seorang ilmuwan heliocentric, bukti geocentric ini dihilangkan dan diganti dengan teori alternatif yang terkesan dipaksakan:
…Such condition would imply that we occupy a unique position of the universe, analogous, in a sense, to the ancient conception of a central Earth…This hypothesis cannot be disproved, but it is unwelcome and would only be accepted as a last resort in order to save phenomena. Therefore we disregard this posibiltiy… the unwelcome position of a favored location must be avoided at all costs… such a favored position is intolerable… Therefore, in order to restore homogeneity, and to escape the horror of a unique position… must be compensated by spatial curvature. There seems to be no other escape. [1]
(…Kondisi seperti ini menyiratkan bahwa kita menempati posisi unik di alam semesta, sekilas, dalam beberapa hal, berhubungan dengan konsep kuno tentang Bumi yang terletak di tengah -semesta-… Hipotesa ini tidak terbantahkan -disproved-, akan tetapi hal ini tidak dikehendaki dan hanya bisa dianggap sebagai jalan terakhir untuk lari dari fenomena tersebut. Oleh karena itu, kami tidak mengindahkan kemungkinan ini -yakni, Bumi terletak di tengah semesta-… posisinya yang tidak dikehendaki dari sebuah lokasi semacam ini harus dihindari walau bagaimanapun juga… seperti posisi semacam ini tidaklah dapat ditoleransi… Karenanya, sehubungan dengan pemulihan homogenitas -ruang dan waktu-, dan untuk lari dari horor tentang posisi yang unik ini… harus diimbangi dengan kelengkungan ruang -spatial curvature-. Tampaknya memang tidak ada jalan lain.)
Meskipun Hubble mengakui bahwa penemuan ini “disproved”, “Earth-centered”(konsep Bumi ditengah semesta) tidak hanya “unwelcome” tapi “must be avoided at all costs” dan dikatakan juga hal ini merupakan “horror” yang “intolerable”. Juga patut diperhatikan, Hubble sengaja mengeluarkan teori “space curvature” yang diciptakan (oleh Einstein) untuk lari dari kenyataan bahwa geocentric sesungguhnya merupakan implikasi yang tepat terhadap temuan teleskopnya di Mount Wilson, California.
Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa kebanyakan ilmuwan sekarang tidak dapat mengatasi prasangka dan praduga yang timbul dari mereka sendiri pada saat meneliti bukti-bukti yang mengganggu cara pandang mereka selama ini (heliocentric). Pemikiran untuk “minta maaf” atas fakta-fakta yang terjadi bahwa ilmu astronomi karena telah menyesatkan sebagian besar orang selama ini, dianggap sebagai “intolerable…horror” seperti yang terjadi pada Edwin Hubble. Kemudian dikomentari oleh Van der Kamp:
For theoritical thinking and concluding are not self-sufficient. When -as it has happenned!- a prominent astronomer tells us that scientifically the Thyconean [Geocentric] system of the world cannot be disproven, but that philosophically it is un acceptable, then he bares thereby the pre-rational foundation of all human thought to be the starting point of his convictions. And that starting point determines his approach to his scientific labors, whether he is fully aware of it or not… his faith in human thinking’s self-sufficiency misleads him into believing that this thinking can provide him with an unassailable truth [2]
(Karena pemikiran dan penyimpulan secara teoritis tidak memuaskan. Ketika -seperti yang telah terjadi!- seorang ahli astronomi terkemuka mengatakan kepada kita bahwa secara ilmiah sistem [Geocentric] Thyconean adalah tidak terbantahkan -disproven-, namun secara filosofis hal ini tidak dapat diterima, kemudian dengan polos ia menggunakan pondasi pra-rasional dari semua pemikiran manusia sebagai titik awal pendiriannya. Dan titik awal itu menentukan tujuan dari pekerjaan ilmiahnya, apakah ia benar-benar sadar akan hal itu atau tidak… Keyakinannya merasa cukup di dalam pemikiran manusia menyesatkannya hingga mempercayai bahwa pemikiran ini telah mencukupkannya dengan sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.)
Mighty telescopes and super-sensitives scanners may deliver reams and reams of data -they deliver not a syllable of unassailable interpretation. At bottom we always see, as Wittgenstein put it, what we want to see. That is in astronomy: Either a closed finite, an open finite, or a curved unbounded cosmos. [3]
(Teleskop-teleskop raksasa dan pemindai-pemindai yang sangat sensitif dapat mengirimkan rim demi rim data -mereka tidak mengirimkan sebuah kata saja dari interpretasi yang tidak terbantahkan. Pada dasarnya kita selalu melihat, seperti dinyatakan Wittgenstein, apa yang ingin kita lihat. Dan hal ini terjadi dalam astronomi: Apakah ia berupa semesta tertutup, semesta terbuka, atau semesta melengkung tak terhingga)
James Burke, dalam bukunya yang menggambarkan bagaimana Galileo mengubah cara pandang kita dalam memandang semesta, menyatakan:
Today we live according to the latest version of how universe functions. This view affects our behaviour and thought, just as previous version affected those who lived with them. Like the people of the past, we disregard phenomena which do not fit our view becouse they are ‘wrong’. Like our ancestors we know the real truth.Has the course of learning about the universe been, as science would claim, a logical and objective search for the truth, or is each step taken for reasons related only to the theories of the time? Do scientific criteria change with changing social priorities? If they do, why is science accorded its privileged position? If all research is theory-laden, contextually determined, is knowledge merely what we decided it should be? Is the universe what we discover it is, or what we say it is? [4]
(Sekarang kita hidup berdasarkan versi terakhir tentang bagaimana semesta berfungsi. Cara pandang ini mempengaruhi sikap dan pikiran, sama halnya seperti versi sebelumnya yang telah mempengaruhi orang-orang yang hidup bersama versi tersebut. Seperti halnya orang di masa lalu, kita mengabaikan fenomena yang tidak cocok dengan cara pandang kita karena merupakan suatu ‘kesalahan’. Seperti pendahulu kita yang kita ketahui dengan sebenarnya.Sudahkah tujuan mempelajari semesta selama ini, seperti yang diklaim oleh ilmu pengetahuan, sebagai pencarian yang logis dan objektif terhadap kebenaran, atau setiap langkah yang diambil untuk alasan tertentu hanya berhubungan dengan teori yang pada waktu itu? Apakah kriteria ilmiah berubah seiring dengan perubahan prioritas sosial? Jika iya, mengapa ilmu pengetahuan merasa posisinya istimewa? Jika setiap riset adalah berupa pemuatan teori, ditentukan secara konteks, apakah pengetahuan berarti apa yang kita tentukan bagaimana ia seharusnya? Apakah semesta adalah sebagaimana yang kita temukan, atau sebagaimana yang kita katakan?)
Kemudian Burke menambahkan:
The point is that it would look exactly the same. When we observe nature we see what we want to see, according to what we believe we know about it that time. [5]
(Intinya semua itu akan terlihat sama persisnya. Ketika kita mengamati alam kita melihat apa yang ingin kita lihat, sesuai dengan apa yang kita percayai kita ketahui tentang hal tersebut pada waktu itu.)
Dari pernyataan Hubble:
If the redshifts are a Doppler shift… the observations as they stand lead to the anomaly of a closed universe, curiously small and dense, and, it may be added, suspiciously young. On the other hand, if redshifts are not Doppler effects, these anomaly disappear and the region observed appears as a small, homogenous, but insignificant portion of a universe extended indefinitely in both space and time. [6]
(Jika Pergeseran Spektrum Merah -Red Shift- merupakan pergeseran Doppler… observasi-observasi yang mereka lakukan mengarah kepada anomali dari sebuah semesta yang tertutup, kemungkinan berukuran kecil dan padat, dan kemungkinan muda usianya. Sementara, bila Pergeseran Spektrum Merah bukan merupakan efek Doppler, anomali ini hilang dan wilayah yang diobservasi tersebut tampak kecil, homogen, namun beberapa bagian kecil dari semesta meluas dalam wujud ruang dan waktu.)
Atau dengan kata lain dapat dikatakan, Hubble berada dalam dilema yang menyulitkannya untuk mengambil kesimpulan. Bila beliau mengakui bahwa Pergeseran Spektrum Merah adalah merupakan efek Doppler maka terpaksa menyetujui konsep Geocentric, yaitu, Bumi ditengah semesta yang “closed, small, dense and young” Bila beliau mengakui bahwa Pergeseran Spektrum Merah bukan merupakan efek Doppler maka terpaksa menerima konsep “Infinite Universe” yang bahkan tidak sejalan dengan teori Big Bang maupun General Relativity.Kebenaran yang ada dari fakta di atas adalah bahwa salah seorang ilmuwan terkemuka yang telah diakui dunia ternyata memiliki teori dari hasil penelitiannya sendiri yang ternyata bertentangan dengan ilmu astronomi saat ini. Tentu saja konsep “Earth-centered” bagi Hubble pada awalnya adalah sesuatu yang “intolerable”, namun tetap saja konsep ini diakui beliau tidak dapat terbantahkan secara ilmiah -disproven-
._______________________
- The Observational Approach to Cosmology, 1937, pp. 50, 51, 58-59
- De Labore Solis, p.56.
- De Labore Solis, p.80.
- James Burke, The Day the Universe Changed: How Galileo’s Telescope Changed the Truth and Other Events in History That Dramatically Altered Our Understanding of the World, 1985, preface.
- James Burke, The Day the Universe Changed, p. 11.
- Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 17, 506, 1937.
Dikutip dari postingan Mas Goen di milis Hidayatullah